Senin, 09 April 2012

MARI KITA TELADANI SIKAP RASULULLAH SAW

Rasulullah adalah sosok pemimpin yang sangat bijaksana dan tak terkalahkan. Dengan jiwa kepemimpinan yang begitu sederhana dan atas pertolongan serta izin dari Allah, di zaman itu, hampir tiga perempat dunia ini dikuasai oleh Islam hanya dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, sepeninggal Rasulullah, semangat para sahabat dan pejuang-pejuang Islam semakin menyusut. Hingga di suatu waktuseorang tokoh yang bernama Shalahuddin Al-Ayubi menginisiasi untuk mengenang, mengingat kembali keteladanan yang dapat diambil dari semangat juang Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam melalui suatu perayaan. Dari kegiatan tersebut ternyata semangat para pejuang Islam muncul kembali. Puncaknya adalah ketika Shalahuddin Al-Ayubi memenangkan pertempuran pada perang salib.
Sejak saat itulah dikabarkan bahwa perayaan dalam rangka mengenang kembali keteladanan sifat Rasulullah dilaksanakan sebagai ritual tahunan. Tujuannya adalah agar semangat juang untuk selalu menyebarkan Islam di muka bumi ini tidak pernah padam. Dan semakin banyak orang-orang yang tertarik dan memeluk agama Islam.
Jadi sebenarnya tidak salah kita mengenang kembali keteladanan sifat Rasulullah. Tapi apakah caranya harus dengan mengadakan perayaan semacam tablig akbar? Silakan di jawab sendiri yaa
Untuk di zaman sekarang ini yang dapat kita lakukan agar nilai-nilai Islam tetap tersebar di muka bumi adalah dengan menghidupkan sunnah-sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tak perlu muluk-muluk. Menghidupkan sunnah dapat dimulai dari hal yang kecil dan sederhana, misalnya saja selalu bermuka ceria ketika bertemu saudara kita. Bukankah senyum itu ibadah ^^
“Tabassumuka fi wajhi akhika shodaqoh”
artinya “Senyummu dihadapan saudaramu adalah shodaqoh” (HR. Muslim).
Selain itu, ada yang menarik nih tentang antara Rasulullah, shodaqoh, dan hadiah. Menurut salah satu hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disuguhi makanan, ia selalu bertanya; Apakah ia hadiah atau sedekah.? Jika dijawab, ‘Sedekah’ maka ia berkata kepada para shahabatnya, ‘Makanlah oleh kalian’ sementara ia tidak ikut memakannya. Sedangkan bila dijawab, ‘hadiah’ maka beliau mencuci tangannya lalu memakannya bersama mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih).
Hadits lainnya berasal dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenerima hadiah dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya.” (HR. al-Bukhari)
Itu tadi hanya contoh kecil dari sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah.
Jadi teman-teman, marilah moment maulid nabi ini kita jadikan tolok ukur seberapa jauh kita telah mengenal Rasulullah dan sudah sejauh mana usaha kita dalam meneladani sifat-sifat beliau.
Semoga sedikit tulisan ini menjadi refleksi bagi diri kita masing-masing :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar